The Euthyphro Dilemma

apakah sesuatu itu baik karena Tuhan menyukainya atau Tuhan menyukainya karena itu baik

The Euthyphro Dilemma
I

Mari kita bayangkan sebuah skenario yang sedikit absurd. Suatu pagi, kita bangun dan mendapat kabar dari seluruh stasiun berita bahwa memukul orang yang tidak bersalah kini dinilai sebagai perbuatan yang sangat mulia. Tidak masuk akal, bukan? Hati nurani kita pasti menolak keras. Tapi, dari mana sebenarnya kita tahu bahwa suatu hal itu baik atau buruk? Pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: apa yang membuat kebaikan itu... baik? Apakah karena kesepakatan masyarakat? Atau, kalau kita tarik lebih dalam ke ranah spiritual, apakah sesuatu itu baik karena Tuhan menyukainya? Pertanyaan ini kelihatannya sangat sederhana. Tapi percayalah, di balik kesederhanaannya, ini adalah salah satu jebakan logika paling brilian dalam sejarah pemikiran manusia.

II

Untuk memahami betapa dalamnya jebakan ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur sejenak ke kota Athena, sekitar 2.400 tahun yang lalu. Di sana hidup seorang filsuf nyentrik bernama Socrates. Ia tidak suka menulis buku. Hobinya hanya nongkrong di pasar, mengajak orang lewat mengobrol, tapi ujung-ujungnya membuat orang tersebut mempertanyakan seluruh jalan hidupnya. Suatu hari, Socrates bertemu dengan seorang pemuda bernama Euthyphro. Pemuda ini sedang dalam perjalanan ke pengadilan. Ia berniat melaporkan ayah kandungnya sendiri atas tuduhan pembunuhan. Socrates tentu saja kaget. Ia bertanya, "Kamu yakin yang kamu lakukan ini benar dan suci di mata dewa?" Dengan sangat percaya diri, Euthyphro menjawab bahwa dewa-dewa menyukai keadilan, jadi tindakannya sudah pasti benar. Nah, persis di detik inilah Socrates melempar sebuah pertanyaan yang kelak mengubah cara manusia memandang moralitas. Sebuah pertanyaan yang akan membuat otak kita sedikit bekerja keras hari ini.

III

Socrates memandang Euthyphro dan bertanya begini: "Apakah sesuatu itu baik karena Tuhan menyukainya, atau Tuhan menyukainya karena sesuatu itu memang sudah baik dari sananya?" Mari kita baca kalimat tadi pelan-pelan. Kelihatannya mirip, padahal efek logikanya sangat berbeda. Inilah yang di dunia filsafat dikenal sebagai The Euthyphro Dilemma. Mari kita bedah opsi yang pertama. Kalau sesuatu itu baik hanya karena Tuhan menyukainya, berarti moralitas itu sifatnya bebas dan sewenang-wenang. Bayangkan kalau Tuhan tiba-tiba memerintahkan bahwa berbohong dan mencuri itu baik. Apakah kejahatan otomatis berubah jadi perbuatan mulia? Nalar kita pasti berontak. Tapi, mari kita lihat opsi yang kedua. Kalau Tuhan menyukai sesuatu karena hal itu sudah baik dari sananya, masalahnya ternyata tidak kalah ngeri. Itu berarti ada standar kebaikan yang eksis di luar Tuhan. Ada aturan absolut tentang "yang baik dan yang buruk", dan Tuhan sekadar mematuhinya. Logika ini menantang konsep Tuhan yang maha kuasa sebagai sumber dan pencipta segala sesuatu. Jadi, kita harus memilih jalan yang mana?

IV

Secara psikologis, otak kita sangat tidak nyaman dengan dilema semacam ini. Ilmu psikologi kognitif menyebut kondisi ini sebagai cognitive dissonance. Otak kita berevolusi untuk mencari kepastian yang absolut. Leluhur kita butuh aturan hitam-putih agar kelompok sosialnya bisa bertahan hidup dan bekerja sama. Selama ribuan tahun, sejarah menunjukkan manusia selalu menempelkan aturan moralitas pada figur otoritas tertinggi. Tujuannya sederhana: agar tidak ada yang berani melanggar. Tapi The Euthyphro Dilemma datang dan membongkar sebuah fakta yang mengejutkan: kebaikan mungkin jauh lebih kompleks dari sekadar kepatuhan buta. Kalau kita melihatnya dari kacamata sains kognitif dan biologi evolusioner, moralitas kita tidak turun begitu saja dari langit tanpa alasan. Spesies manusia mengembangkan rasa empati, keadilan, dan rasa bersalah karena mekanisme itulah yang membuat kita tidak saling membunuh dan bisa beradab. Kita lahir membawa semacam kompas moral di dalam jaringan otak kita (moral grammar). Kebaikan memiliki nilai inheren yang terhubung langsung dengan kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia.

V

Mungkin teman-teman sekarang mengerutkan kening dan berpikir, jadi apa kesimpulan akhirnya? Apakah teka-teki kuno ini punya jawaban yang pasti? Sampai hari ini, para teolog, ilmuwan, dan filsuf masih terus berdebat merumuskan jalan tengahnya. Namun, justru di situlah letak keindahan dari dilema ini. Socrates tidak memberikan pertanyaan tersebut untuk menghancurkan keyakinan kita. Ia memancing kita agar berani berpikir kritis. Ia ingin kita sadar bahwa menjadi manusia yang baik ternyata tidak cukup hanya dengan ikut-ikutan mayoritas, atau patuh semata-mata karena takut dihukum. Kebaikan menuntut kita untuk aktif menggunakan empati, nalar, dan hati nurani. Ketika kita memilih untuk menolong orang lain, kita melakukannya bukan sekadar karena ada aturan yang menyuruh kita, melainkan karena kita sadar sepenuhnya bahwa kebaikan itu sendiri berharga. Jadi, mari kita terus bertanya, terus belajar peduli, dan tidak pernah berhenti merawat rasa ingin tahu. Karena pada akhirnya, kemampuan untuk berpikir dan merasa adalah hadiah terindah yang membuat kita utuh sebagai manusia.